Profil Tokoh Pelopor NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Mbah Sulaimi

Dengan penuh rasa hormat dan kekaguman, kami ingin memperkenalkan sosok yang menjadi tiang utama penyebaran ajaran Islam di Desa Ngelo, khususnya di Dusun Jipangulu. Mbah Sulaimi, lahir di Blora pada tahun 1940, adalah pribadi yang melalui perjalanan hidupnya membawa cahaya keislaman yang memancar hingga ke pelosok Desa Jipangulu.

Mbah Sulemi, merupakan sosok yang berperan penting dalam membangun keberagaman dan persatuan melalui dakwah NU di Jipangulu Ngelo Margomulyo. Pada awalnya, Mbah Sulemi adalah seorang nelayan pencari ikan di Sungai Bengawan Solo. Migrasi ke Jipangulu membawa perubahan signifikan dalam hidupnya.

Setelah menetap di Jipangulu, Mbah Sulemi menikah dengan seorang gadis desa setempat, dan bersama-sama mereka membangun kehidupan keluarga yang harmonis. Sejak awal, Mbah Sulemi telah menunjukkan minatnya dalam ajaran Islam yang berhaluan Nahdlatul Ulama (NU), suatu organisasi Islam yang dikenal dengan semangat keberagamannya.

Baca Juga: Profil Tokoh NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Lek Nyaman

Pada era Orde Baru, Mbah Sulemi menjadi pelopor pergerakan dakwah NU di daerahnya. Ia menjadi tokoh masyarakat yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam yang mengedepankan nilai keberagaman dan persatuan. Keberhasilannya dalam berdakwah membuatnya dihormati dan diakui oleh masyarakat setempat.


Karir Mbah Sulemi di dunia pemerintahan desa dimulai ketika ia menjabat sebagai kepala dusun di Jipangulu. Kemudian, pada tahun 1992, ia terpilih sebagai Kepala Desa Ngelo dan berhasil memimpin desa tersebut selama dua periode, hingga tahun 2008. Selama kepemimpinannya, Mbah Sulemi berusaha menjaga stabilitas dan mempromosikan nilai-nilai keberagaman di tengah masyarakatnya.


Salah satu kontribusi besar Mbah Sulemi adalah dukungannya terhadap pendirian lembaga keagamaan di Desa Ngelo, khususnya di Jipangulu. Ia turut berperan aktif dalam berdirinya Lembaga Pendidikan Islam Fathul Ulum, yang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran ajaran Islam di wilayah tersebut.

Mbah Sulemi meninggalkan dunia pada tahun 2017, namun warisan dan pengaruh positifnya tetap terasa dalam pembangunan masyarakat yang berlandaskan ajaran Islam NU di Jipangulu Ngelo Margomulyo. Ia menjadi contoh inspiratif bagi generasi selanjutnya untuk mempertahankan nilai-nilai keberagaman, persatuan, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan zaman.

Peninggalan Mbah Sulemi tidak hanya tercermin dalam bidang politik dan keagamaan, tetapi juga melibatkan aspek sosial dan pendidikan. Sebagai seorang pemimpin desa yang peduli terhadap pendidikan, ia berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan di wilayahnya. Salah satu langkah konkritnya adalah mendukung berdirinya Lembaga Pendidikan Islam Fathul Ulum di Jipangulu.

Baca Juga: Profil Tokoh NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Pak Nurdi

Lembaga pendidikan ini tidak hanya menjadi pusat penyebaran ajaran Islam, tetapi juga tempat untuk mengembangkan kecerdasan dan karakter generasi muda. Mbah Sulemi berusaha menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, mengajarkan nilai-nilai toleransi, kerjasama, dan rasa hormat antarumat beragama.


Selama kepemimpinannya, Mbah Sulemi juga gencar mempromosikan kegiatan sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Program-program kemanusiaan dan kepedulian sosial menjadi bagian integral dari visi dan misinya. Ia ingin memastikan bahwa keberagaman masyarakatnya tidak hanya menjadi semacam tagline, tetapi benar-benar dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Profil Tokoh NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: KH. Nur Khozin

Pengaruh Mbah Sulemi dalam pembentukan karakter dan moral masyarakat Jipangulu tetap terasa kuat bahkan setelah kepergiannya. Pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam NU sebagai landasan untuk membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan damai terus diwariskan kepada generasi penerusnya.


Pada akhirnya, Mbah Sulemi diingat sebagai tokoh yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan kelembagaan, tetapi juga pada pembangunan manusia secara keseluruhan. Warisannya yang berupa nilai-nilai keberagaman, persatuan, dan kepedulian sosial terus menjadi inspirasi bagi masyarakat Jipangulu Ngelo Margomulyo dan menjadi tonggak dalam perkembangan dakwah NU di daerah tersebut.

Mbah Sulemi, menjelang akhir hayatnya, menunjukkan kepeduliannya terhadap kelanjutan perjuangan NU di wilayah Margomulyo dengan sebuah pesan yang sangat berarti. Saat itu, beliau memanggil salah satu keponakannya yang bernama Badrun, dengan suara yang tenang namun penuh makna. Beliau menyampaikan pesan yang kemudian menjadi warisan berharga bagi Badrun dan komunitas NU di seluruh kecamatan Margomulyo.


"Drun, Abang ijone NU neng Margomulyo tak titipke awakmu le," ujar Mbah Sulemi dengan penuh keikhlasan. Pesan ini mengandung makna mendalam, bahwa segala baik buruk dan arah kemajuan NU di wilayah Margomulyo diamanahkan kepada Badrun. Ini bukan hanya tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankan, tetapi juga untuk terus memajukan gerakan keberagaman dan persatuan di seluruh kecamatan.


Mbah Sulemi dengan tajam memandang ke depan, menyadari pentingnya peran Badrun dalam melanjutkan jejak perjuangan NU di wilayah tersebut. Pesan tersebut tidak hanya mencakup aspek keagamaan, tetapi juga mengajak Badrun untuk melibatkan diri dalam aspek-aspek kemasyarakatan, pendidikan, dan kemanusiaan. Ia ingin Badrun mewarisi semangat keberagaman dan persatuan yang telah menjadi landasan dalam membangun masyarakat di Margomulyo.


Badrun menerima pesan itu dengan penuh rasa tanggung jawab. Ia merasa terpanggil untuk melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh Mbah Sulemi. Dengan semangat kebersamaan, Badrun bersama komunitas NU di wilayah tersebut berusaha mewujudkan visi dan misi yang telah dititipkan oleh Mbah Sulemi.


Mbah Sulemi meninggalkan dunia dengan ketenangan hati, karena ia yakin bahwa perjuangannya tidak akan terhenti begitu saja. Pesan dan semangatnya diwariskan kepada generasi penerus, khususnya kepada Badrun, untuk terus menjaga dan mengembangkan NU sebagai wahana keberagaman dan persatuan di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.

Mbah Sulemi meninggalkan dunia pada tahun 2017, namun warisan dan pengaruh positifnya tetap terasa dalam pembangunan masyarakat yang berlandaskan ajaran Islam NU di Jipangulu Ngelo Margomulyo. Ia menjadi contoh inspiratif bagi generasi selanjutnya untuk mempertahankan nilai-nilai keberagaman, persatuan, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan zaman.

Proses perjuangannya tidaklah mudah, namun setiap tantangan yang dihadapi oleh Mbah Sulaimi membawa berkah bagi syi'ar Islam di Jipangulu. Dengan ketabahan dan kesabaran, beliau mampu membangun dan membimbing generasi muda di desa tersebut, mencetak para Kader NU yang berkualitas.

Di antara para Kader NU yang lahir dari perjuangan Mbah Sulaimi, terdapat tokoh-tokoh penting seperti Tri Maryono, yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Ngelo dan Ketua MWC LAZISNU Margomulyo, serta Kiyai Badrun Sulaiman, yang menjabat sebagai Ketua MUI Margomulyo dan Ketua MWCNU Margomulyo.

Berbekal semangat dan keberkahan perjuangan Mbah Sulaimi, di Jipangulu pun tumbuh lembaga pendidikan Islam yang berhaluan NU. Keberadaan Mbah Sulaimi tidak hanya menciptakan sejarah bagi Desa Jipangulu, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi perkembangan keilmuan dan keislaman di Kecamatan Margomulyo.

Dengan rasa hormat dan syukur, kami mengenang perjalanan panjang Mbah Sulaimi, seorang pionir yang telah mewariskan nilai-nilai keimanan, ketekunan, dan keberkahan bagi generasi NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu.

Mbah Sulaimi, dengan kepribadiannya yang tulus dan penuh keikhlasan, telah menjadi teladan bagi masyarakat Desa Jipangulu. Melalui upaya giginyahnya, beliau tidak hanya menyebarkan luaskan ajaran Islam, tetapi juga membangun fondasi keislaman yang kokoh di tengah-tengah masyarakat.

Keberkahan perjuangan Mbah Sulaimi terlihat melalui hasil positif yang tercipta di Desa Jipangulu. Para Kader NU yang dibor di bawah bimbingannya menjadi ujung tombak dalam mengamalkan ajaran Islam yang penuh rahmat dan toleransi. Tri Maryono, yang kini memimpin sebagai Kepala Desa Ngelo, adalah salah satu contoh bagaimana pemimpin lokal dapat menerapkan nilai-nilai NU untuk kemajuan masyarakat.

Selain itu, peran Kiyai Badrun Sulaiman sebagai Ketua MUI Margomulyo dan Ketua MWCNU Margomulyo menunjukkan bahwa warisan Mbah Sulaimi tidak hanya terasa di tingkat desa, tetapi juga mencapai tingkat kecamatan. Lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya memberikan kontribusi besar dalam memperkuat kerangka keimanan dan keislaman di seluruh Margomulyo.

Dengan dedikasi dan semangatnya, Mbah Sulaimi juga ikut berperan dalam mendorong pendirian lembaga pendidikan Islam yang berbasis NU di Desa Jipangulu. Ini menjadi landasan bagi generasi penerus untuk mendapatkan pendidikan yang berwawasan keislaman yang bernilai NU.

Kami menghadirkan cerita tentang Mbah Sulaimi sebagai persembahan yang diberikan penghargaan atas peran luar biasanya dalam memimpin dan membimbing masyarakat Jipangulu menuju jalan kebaikan. Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mengembangkan nilai-nilai keislaman yang berlandaskan pada semangat kebersamaan, toleransi, dan keberkahan.

Di samping jejak perjuangan Mbah Sulaimi yang menginspirasi, Desa Jipangulu kini tumbuh sebagai pusat kegiatan keagamaan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam moderat dan keterbukaan. Proses pembentukan para Kader NU di desa ini, yang dimulai dari perjuangan Mbah Sulaimi, telah menciptakan lingkungan yang mendukung dan memelihara kerukunan antarumat beragama.

Peningkatan kapasitas dan keilmuan masyarakat Jipangulu terutama terlihat melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam yang Didirikan. Pembentukan lembaga-lembaga ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan karakter dan moral yang berbasis pada ajaran Islam.

Selain itu, di bawah kepemimpinan Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo dan Ketua MWCNU Margomulyo, Jipangulu menjadi lebih terhubung dengan jaringan keagamaan dan kelembagaan NU di tingkat kecamatan. Kiprah beliau juga terlihat dalam upaya merespon permasalahan sosial dan moral di masyarakat, membuktikan bahwa keberadaan NU di Desa Jipangulu tidak hanya sebagai pengemban nilai agama, tetapi juga sebagai penyeimbang kehidupan sosial.

Terakhir, perjalanan panjang Mbah Sulaimi dan para Kader NU di Desa Jipangulu mengingatkan kita akan pentingnya peran tokoh-tokoh lokal dalam menghidupkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Semangat perjuangan mereka menjadi pijakan kokoh bagi generasi penerus untuk terus memperjuangkan toleransi, keadilan, dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.

Dengan penuh penghargaan, kami merayakan warisan perjuangan Mbah Sulaimi dan para Kader NU di Desa Jipangulu, yang telah membentuk komunitas yang diwajibkan pada ajaran Islam yang damai dan inklusif. Semoga cerita ini memberikan inspirasi dan dorongan bagi kita semua untuk terus melanjutkan perjalanan membangun masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.


Kontributor: Muhibbin Mbah Nur
Editor: Tim Lacak Jejak NU Ngelo