Profil Tokoh Pelopor NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Kiyai Nyaman

Generasi penyebar Islam Annahdhiyah di Jipangulu berikutnya adalah Lek Nyaman, seorang pria yang begitu dihormati oleh warga setempat. Nama "Lek Nyaman" bukan sekadar panggilan, tetapi juga mencerminkan kehangatan dan kenyamanan yang diusungnya dalam menyebarkan ajaran Islam. Pria jangkung ini, meskipun satu kurun waktu dengan para penyebar Islam Jipangulu lainnya, memiliki peran khusus dalam mengenalkan NU kepada warga setempat.

Baca Juga: Profil Tokoh NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Mbah Sulaimi

Lek Nyaman adalah seorang santri yang berasal dari Jipangulu, kelahiran asli daerah tersebut. Ia belajar dan mendalami ajaran Islam dari Kiyai Muhsin Mendenrejo, salah seorang tokoh penting di bidang keagamaan di masa itu. Dengan kesabaran yang tinggi, Lek Nyaman menjadi pengajar baca-tulis Al-Qur'an dan kajian fiqih Kitab Safinatun Naja bagi warga Jipangulu pada era tahun 1980-an.


Peran Lek Nyaman tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi juga pada membentuk karakter dan pengetahuan agama masyarakat setempat. Ia memahami bahwa pendidikan agama yang kokoh akan memberikan landasan kuat bagi perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, ia dengan tekun dan penuh dedikasi melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan dan dakwah di Jipangulu.


Meskipun perannya sangat penting, takdir membawanya merantau ke Aceh karena berbagai alasan. Meskipun berpisah dengan Jipangulu, Lek Nyaman tetap menjaga komitmen dan semangatnya untuk menyebarkan ajaran Islam dan semangat keberagaman, terutama ajaran NU. Kepergiannya tidak menghentikan jejak perjuangan dan warisan keilmuannya di Jipangulu.

Baca Juga: Profil Tokoh NU di Desa Ngelo Dusun Jipangulu: Pak Nurdi

Lek Nyaman adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk identitas keislaman dan keberagaman di Jipangulu. Meski berpindah tempat, semangat dan ajarannya tetap membimbing dan memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya dalam menjalankan peran dan tanggung jawab mereka dalam menjaga dan mengembangkan NU di wilayah tersebut.


Meskipun Lek Nyaman merantau ke Aceh dan menetap di sana, ikatan batin dengan Jipangulu tidak pernah pudar. Ia terus berkomunikasi dengan para tokoh dan santri di Jipangulu, memberikan dukungan moril, serta berbagi pengalaman dan pemahaman agama. Lek Nyaman tetap menjadi sumber inspirasi bagi warga Jipangulu, dan namanya diingat sebagai salah satu pionir yang membawa nuansa keberagaman dan semangat kebersamaan di wilayah tersebut.


Pengaruh Lek Nyaman terasa hingga generasi selanjutnya. Santri-santri yang pernah belajar dengannya dan masyarakat Jipangulu pada umumnya terus menerus menggali nilai-nilai keilmuan dan keberagaman yang telah ditanamkan oleh Lek Nyaman. Perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi menjadi contoh yang memotivasi untuk terus berjuang dalam menyebarkan ajaran Islam yang toleran dan inklusif.


Di Aceh, Lek Nyaman melanjutkan perannya sebagai pendidik dan penceramah, tetapi tetap aktif menjalin komunikasi dengan NU dan masyarakat Jipangulu. Ia berbagi pengalaman tentang keberagaman dan nilai-nilai yang telah berhasil diimplementasikan di tempat asalnya. Hal ini menciptakan hubungan erat antara dua komunitas yang terletak berjauhan geografis.


Pernantian Lek Nyaman tidak hanya sebagai perpisahan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menyebarkan nilai-nilai keberagaman dan persatuan ke wilayah yang lebih luas. Dengan pengalaman dan pemahamannya yang telah teruji, ia mampu memberikan kontribusi berharga di tempat baru tanpa melupakan akar budinya di Jipangulu.


Warisan Lek Nyaman di Jipangulu dan keberlanjutan dakwah NU di wilayah tersebut tetap menjadi tonggak penting dalam pembentukan karakter dan identitas keislaman masyarakat. Pesan damai, toleransi, dan keberagaman yang diwariskan oleh Lek Nyaman terus berkembang dan memberikan dorongan positif bagi generasi penerus, membangun pondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik.


(Tim Lacak Jejak NU Ngelo)